Apr
26

“Kami rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya…” kemudian kalimat itu disambut dengan sorak-sorai seluruh rakyat yang hadir pada upacara pagi hari itu. Merdeka!
Ya, memang kita sudah merdeka. Tak ada lagi peperangan di negeri ini. Namun sadarkah kalian bila masih ada hati yang menangis menikmati kemerdekaan itu sendiri? Benar memang bahwa ia turut berseru ketika itu. Benar bahwa ia sama dengan yang lain, ia juga bangga akan kemerdekaan ini. Karena jauh sebelum negeri ini merdeka, ia pula yang ikut berperang melawan penjajah dengan satu tekad saja: Merdeka.
Namun kemerdekaan ini jugalah yang membuat ia menangis. Kemerdekaan ini pula-lah yang kadang sering membuat ia berputus asa. Ada sedikit penyesalan di hatinya dengan kemerdekaan bangsa ini, di tengah-tengah rasa nasionalismenya yang luar biasa. Kadang sedikit kemajuan yang dicapai Indonesia membuatnya bangga, namun juga membuatnya semakin terpuruk.
Mengapa?
Karena ia tak pernah dianggap.
Ya, veteran. Mereka adalah para veteran. Dalam ingatan mereka, masih tergambar jelas bagaimana kemerdekaan itu diraih. Dengan darah, dengan nanah. Dengan sakit, dengan kelaparan, dengan kemiskinan, dengan air mata, dengan keringat mereka yang tak pernah kering. Mereka menangis, karena kata ‘merdeka’ tak bisa mengubah keadaan mereka menjadi merdeka yang sebenar-benarnya. Bahkan nama mereka pun tak pernah tertulis dalam catatan sejarah. Atau mungkin juga tak akan pernah.
Padahal tanpa keringat dan darah mereka, negeri ini tak akan merdeka.
Pernahkah kalian membayangkan bagaimana gentingnya saat mereka berperang melawan kolonial? Pernahkah kalian memikirkan nasib keluarga yang mereka tinggalkan demi kemerdekaan negeri ini? Tangisan hati mereka akan hilang saat kalian mengakui mereka sebagai pahlawan negeri ini.
Saat kecanggihan teknologi di negeri ini sudah dapat dirasakan berbagai kalangan, sadarkah kalian bahwa hanya ada radio tua di ruang tengah mereka?
Kadang ada veteran yang masih setia memakai pakaian dinas mereka kemana pun mereka pergi. Di angkutan, di pasar, dan di tempat-tempat umum lainnya. Untuk apa? Hanya agar mereka dihargai. Sekali lagi, dihargai. Mereka hanya ingin merasakan kemerdekaan seperti apa yang kita rasakan. Mereka ingin merasakan kemerdekaan yang juga milik mereka, sebab tanpa mereka bangsa ini takkan merdeka. Tanpa darah mereka, kalian takkan mengenyam pendidikan sampai tamat SMA. Tapi mereka? Bagaimana nasibnya?
Jauh dari kata MERDEKA.
Mungkin sama rasanya saat kalian mati-matian berusaha agar meraih kemenangan, namun ketika kemenangan itu berhasil kalian raih, justru penghargaan itu diberikan kepada orang lain yang tak pantas memilikinya. Sanggupkah kalian melihat hal itu terjadi? Apa yang kalian inginkan? Hanya penghargaan. Hanya sebuah kata yang mewakili usaha kalian saat itu: pahlawan.
Begitulah yang dirasakan para pahlawan yang tak dikenal. Atau mungkin lebih menyakitkan daripada yang kita bayangkan. Ingatlah kawan, garis takkan menjadi garis bila tak ada titik. Dan lingkaran takkan menjadi lingkaran bila tak ada garis. Semua itu saling berhubungan, dan tak ada yang tidak penting. Sekecil apapun, mereka tetap penting.
Hidup kadang memang terasa tidak adil, kadang hidup ini juga tak layak disebut indah. Namun ketidakadilan itulah yang membuat kita belajar menjadi pribadi yang arif. Ketidakindahan itulah yang harus kita sulap menjadi sesuatu yang menawan.
Bersyukurlah dengan apa yang diberikan-Nya. Karena itu semua takkan pernah sia-sia. Tersenyumlah kawan, dan belajarlah menghargai setiap pahlawan di sekitar kita. Betapa pentingnya sebuah kata, ketika kita tidak lagi dapat medengarnya. Betapa berharganya sebuah penghargaan, ketika kita tak lagi dihargai.
Smile…
And the world will smile to you…
(Terima kasih untuk mas Heru, atas kalimat dalam judul artikel ini yang memberikan saya inspirasi. Juga untuk teman-teman Grasta yang sempet kena semprotan curhat saya gara-gara peristiwa tadi pagi. Juga terima kasih untuk pemerintah Indonesia, atas penghargaannya kepada para veteran yang telah tiada –yang diletakkan di atas makam mereka)

Category: Buat all!!!  9 Comments
Jan
12

Denganmu kini aku merasa
menjadi seorang Cinderella
Walau kutahu kau miliknya
Namun hati ini tlah bicara

Andai tak ada lagi waktu tersisa
Aku rela kau bersamanya
Karena dia tak akan mampu tanpamu
hingga akhir waktu terasa

Kasih…
Dekap erat tubuhku
Agar aku bisa rasakan detak jantungmu
Walau ragamu bukanlah milikku

Kasih…
Meski waktu terasa
bagai air mata yang jatuh tiada henti
Aku rela kau pergi

Jika cinta kita memang harus sementara
Namun aku selalu berdoa
agar senyummu selamanya…

Category: My_P03try  9 Comments
Nop
05

Dalam senyummu, ada sebuah bintang

Dalam tanganmu, ada sutra yang tak terkira halusnya

Dalam bola matamu, ada sinar bulan

Dalam jiwamu, ada sebuah kata cinta

Ibu…

Takkan kubiarkan kau menangis

Karena aku tak ingin kehilangan bintangku

Tetaplah membelai rambutku

Karena tak ada sutra yang sehalus belaianmu

Biarkan aku selamanya memandangimu

Walau bulan berganti badai

Walau mentari lelah menyinari dunia

Walau hari esok tak ada lagi

Senyummu, belaianmu, jiwamu

Akan abadi di dalam hatiku

Tetaplah bersemi

Wahai surya hatiku…

Category: My_P03try  6 Comments
Mei
20

Pengumuman itu menuai pro-kontra dari siswa SMA Nusantara. Larangan membawa HP ke sekolah dengan sanksi tegas yaitu HP akan ditahan sampai akhir tahun pelajaran apabila ketahuan melanggar. Hanya Amel yang masih santai sambil mengipasi tubuhnya. Sementara teman-temannya yang lain sibuk mengumpat peraturan tersebut.

“Aku masih bisa tampil cantik tanpa HP,” gumamnya santai. Asal tak ada larangan membawa make-up, dirinya tak akan terusik.

“Anterin aku ke perpus, yuk!” ajak Amel kepada teman sebangkunya, Kiki. Namun baru saja mau melangkah, Amel hampir terjatuh. Untung saja dengan cepat tangan Kiki menahan tubuhnya. Seorang cowok mendorong kepala Amel dari samping sambil meleletkan lidah. Itu Rio, mantan Amel yang tak pernah absen menjaili Amel. Dan peristiwa tali sepatu ini pasti ulah Rio. Huh, Amel hanya mendesah panjang sampai punggung Rio menghilang di balik pintu.

Setelah putus dengan Amel, sikap Rio memang sangat berubah. Tak seperti Rio yang dulu, yang mesra. Ketika mereka masih pacaran, Rio suka memanggil Amel dengan sebutan “Sweety”. Namun kini panggilan itu hanya tinggal kenangan diantara mereka berdua. Sekarang Rio malah memanggil Amel dengan sebutan “Nenek Lampir”. Amel pun tak mau kalah. Ia membalasnya dengan sebutan “Muka Obeng Ngaku Stylist Nggak Pernah Kelihatan Rapi Karena Jarang Mandi” atau disingkat “Monster Kram”. Jauh banget kan ama yang dulu?

Ditambah lagi sifat jail Rio yang mendadak kumat. Memang sih, sebelum jadian sama Amel, ia sedikit jail. Tapi setelah ada Amel yang baik hati, sifat jailnya ludes tanpa sisa. Hobinya ngerjain orang juga nggak pernah dilakukan. Namun kini malah lebih parah dari sebelumnya.

“Kalo Amel nggak teriak-teriak, gue kangen sama suaranya,” kata Rio pada awalnya. Akhirnya muncullah ide buat ngerjain Amel tiap hari. Selalu saja terdengar teriakan Amel yang meluluhlantakkan seantero SMA Nusantara. Bukunya dicorat-coretlah, pulpennya hilang, bedaknya disembunyiin, bangkunya dikasih kapur, de-el-el.

***

“Mungkin Rio masih sayang sama kamu, Mel,” ujar Kiki. Mereka berdua sedang memandang langit-langit kamar kamar Amel sambil berbaring di atas tempat tidur.

“Idih…sayang??? Nggak salah kamu? It’s impossible!” sanggah Amel pasti. Kiki mengambil boneka Amel lalu mendekapnya.

“Ya…siapa tau aja, Mel. Mungkin dia nggak bisa ngelupain kamu dan dia nggak bisa jauh dari kamu. Jadi, dia ngerjain kamu tiap hari biar dia masih bisa tetep deket ama kamu, bisa tetep denger suara kamu. Hahaha, so sweet banget, ya?” Kiki mengakhiri kalimatnya dengan tawa kecil.

“Bisa aja kamu. Tapi aku nggak yakin kalo Rio kayak gitu. Aku jadi inget waktu dia nggak mau makan habis aku putusin…”kata Amel menerawang. Kiki menoleh ke arahnya sebentar, lalu kembeli memandang langit-langit.

“Lagian kamu juga, sih. Dikomporin sama Lina aja kamu percaya. Rio tuh udah berusaha njelasin semuanya ke kamu tapi kamu tetep aja nggak mau diajak balikan,”

“Kamu tau sendiri kan kalo aku orangnya cemburuan. Aku juga nggak mau dibilang plin-plan karena nerima ajakan dia balikan habis mutusin dia. Walaupun sebenarnya aku masih…” belum sempat Amel meneruskan kata-katanya, HPnya berdering. Ia segera melihat nama yang tertera di layar.

“Siapa?” Tanya Kiki.

“Rio.” Jawab Amel lalu mengangkat teleponnya.

“Panjang umur tuh anak,” gumam Kiki.

“Halo,” sapa Amel.

“Heh, Nenek lampir! Elu nyembunyiin buku fisika gue ya?” Tanya Rio tiba-tiba.

“Hah? Punya sopan santun nggak sih, lo? Tiba-tiba nuduh orang sembarangan. Dasar Monster kram! Gue aja nggak tau buku fisika lo kayak apa, gimana gue mau nyolong?!” balas Amel tak terima.

“Oh…jadi kalo lo tau buku fisika gue, mau lo sembunyiin gitu?” tuduh Rio lagi. Amel geleng-geleng kepala.

“Punya otak nggak, sih lo? Buat apa coba gue nyembunyiin buku lo? Apa untungnya buat gue, heh? Lagian gue juga nggak butuh buku lo, gue udah punya sendiri!”

“Gue nggak mau tau. Kalo sampe’ buku fisika gue ilang, lo yang harus tanggung jawab! Dan besok bakal jadi hari yang nggak bakal lo lupain!”

Klik. Telepon ditutup.

“Otak lo tuh yang ilang!” teriak Amel jengkel sambil melempar hpnya ke arah Kiki. Untung dengan cepat Kiki menangkapnya.

“Kamu kenapa, sih?” Tanya Kiki heran.

“Tuh…si Monster kram! Buku fisikanya ilang, eh dia nuduh aku yang nyembunyiin. Katanya lagi kalo sampe’ besok bukunya nggak ada, aku yang harus tanggung jawab dan besok bakal jadi hari yang nggak bakal aku lupain.” Curhatnya panjang. Kiki hanya menghela napas sambil geleng-geleng kepala karena perang diantara Amel dan Rio masih terus berlanjut.

***

Esoknya…

Buku fisika Rio benar-benar hilang. Otomatis, Rio langsung mengcopy PR temannya. Huh, dasar. Usaha yang salah. Dan satu lagi, ia sudah menyiapkan tikus putih di laci mejanya. Namun tikus ini nggak terlalu menakutkan karena masih berada di dalam kandang.

Sehabis mencontek pekerjaan temannya, Rio memasukkan tikus yanga ada di dalam kandang ke laci Amel. Sewaktu Amel datang, ia bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Untungnya, Bu Vina tidak masuk karena kena demam berdarah. Jadi, untuk jam pertama hanya diberi tugas. Lalu…

“AAAAAAAAARRRGH!!!” jerit Amel histeris ketika menemukan tikus di lacinya. Walaupun hanya di dalam kandang, namun ide Rio ini berhasil membuat Amel mengeluarkan suara khasnya yang mampu mengobati kangen Rio.

Semua penghuni kelas langsung menoleh ke arah Rio. Sementara Rio sendiri hanya cengar-cengir nggak jelas lalu berdiri mengambil tikusnya.

“Tikus dalam kandang aja takut,” ejek Rio kepada Amel. Yang diejek hanya melengos kesal.

Sepulang sekolah…

“Mel, langsung pulang ya. Aku mau nganterin mama arisan. Udah ditunggu, nih,” kata Kiki di koridor kelas.

“Duh, kok aku kebelet pipis ya. Kamu duluan aja, deh,” kata Amel lalu berbalik arah menuju kamar mandi. Ia berlari-lari kecil karena tak tahan ingin buang air.

“Hwa…lega…” ujarnya sambil mencuci tangan. Namun ketika ia mau membuka pintu, pintunya tak bisa terbuka. Ia menarik gagang pintu itu berkali-kali. Ia menggedor-gedor pintu itu. Berharap ada orang yang mendengarnya.

“WOOOY YANG DILUAR! BUKAIN PINTUNYA DONK!” teriak Amel sambil terus menggedor-gedor pintu. Namun tak ada jawaban sama sekali. Tubuhnya tersandar lemas di dinding. Ia melihat sekeliling, lalu ke atas. Berharap ada jendela yang bisa dilompati. Namun kamar mandi ini tak punya jendela. Hanya ada ventilasi yang tentu tak muat untuk ukuran tubuhnya.

“Telepon Kiki,” gumamnya. Ia mencari-cari hpnya di dalam tas. Namun gerakan tangannya terhenti saat ia teringat akan peraturan yang melarang siswa membawa hp. Tak menemukan hp, ia malah menemukan botol parfum kecil.

“Huh, sial. Tapi lumayan lah…” katanya sambil memandang botol itu. Ia membuka tutupnya lalu menyemprotkan isinya ke sekeliling.

“Hmmm… kamar mandinya jadi harum, deh,” gumamnya lagi. Setelah memasukkan botol itu kembai ke tas, ia kembali menyandarkan tubuhnya ke dinding. Dalam diamnya, ia teringat kata-kata Rio kemarin. ‘Besok bakal jadi hari yang nggak bakal loe lupain.’

“RIOOOOOOOOO!!!” teriaknya jengkel. Ia semakin benci dengan cowok itu karena ia yakin kalau Rio yang mengunci pintunya dari luar. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa di sini. Mau berdoa saja tak bisa, ini kan kamar mandi…

Sayup-sayuip adzan ashar terdengar. Bagaimana Amel mau sholat?

“Maafkan Amel, Ya Allah… Amel nggak bisa sholat…” katanya dalam hati. Apakah ia akan di sini sampai besok pagi? Setega itukah Rio?

***

Sementara Rio sibuk menghubungi Amel berkali-kali. Namun tak ada jawaban. Ia ingin minta maaf karena tikus tadi.

“Apa dia bener-bener marah ama gue ya?” tanyanya dalam hati. Ia memutuskan untuk menelepon Kiki.

“Tadi gue mau minta maaf gara-gara tikus tadi pagi. Tapi gue telepon nggak diangkat, gue sms nggak dibales. Gue takut dia marah. Atau… dia belum pulang?” Tanya Rio khawatir.

“Waduh, kalo itu gue nggak tau soalnya gue tadi nggak pulang bareng Amel. Dia tadi ke kamar mandi, terus gue pulang duluan.” Jelas Kiki.

“Oh, ya udah deh. Makasih ya, Ki. Bye,”

“Bye,”

Rio menutup telepon. Iua benar-benar khawatir dengan Amel. Ia takut kalo Amel marah, tapi perasaannya nggak enak. Ia langsung mengambil kunci mobilnya lalu melesat menuju rumah Amel.

***

”Amelnya ada, Bi?”Tanya Rio begitu wajah Bibi Tini muncul membukakan pintu.

“Non Amel belum pulang, Mas.” Jawab Bibi Tini. Mendengar hal itu, perasaan Rio semakin tak enak.

“Ya udah Bi. Makasih ya,” ia menyetir mobilnya tanpa tujuan. Ia tak tahu harus kemana karena sepengetahuannya, Amel selalu pulang tepat waktu. Kalaupun harus keluar dulu, pasti Kiki menemaninya.

Tiba-tiba hpnya berdering. Kiki menelponnya.

“Halo,” sapa Rio.

“Yo, gawat! Kata temen gue di sekolah ada kamar mandi yang pintunya sering macet. Katanya kalo udah macet, cuma bisa dibuka dari luar. Kalo Amel kekunci di kamar mandi itu gimana? Amel kan emang jarang ke kamar mandi.” Jelas Kiki khawatir.

“Kenapa lo nggak bilang dari tadi, sih?”

“Gue aja baru tau sekarang. Sally tadi yang cerita ke gue kalo dia pernah kekunci di sana. Tapi untungnya dia bawa temen, jadi ada yang nolongin.”

“Ya, udah sekarang gue mau jemput Amel di sekolah. Makasih, ya.”

Klik. Telepon ditutup.

Rio langsung berbelok ke kanan begitu ada perempatan. Kini ia sudah melewati Pasar Indah yang berarti semakin dekat dengan jarak sekolahnya. Begitu sampai di tempat parkir sekolahnya, ia langsung turun dari mobilnya lalu berlari mencari Amel. Ia membuka setiap kamar mandi karena ia tak tahu kamar mandi mana yang dimaksud Kiki. Setelah membuka beberapa pintu, akhirnya Rio menemukan kamar mandi yang masih terkunci. Tanpa berpikir panjang ia menekan gagang pintu itu dan…

“Rio?” teriak Amel begitu pintu terbuka. Matanya mencoba menangkap siapa yang ada di depannya. Tanpa sadar ia berlari memeluk Rio. Rio kaget setengah mati saat Amel tiba-tiba mendekapnya. Hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Perlahan, Rio mendekapkan tangannya sebagai tanda ia melindungi mantan pacarnya itu.

“Kamu nggak pa-pa, kan?” Tanya Rio sambil mengacak-acak rambut Amel. Amel melepaskan pelukannya. Ini suasana yang berbeda antara mereka berdua. Amel yang setiap hari berteriak-teriak karena ulah Rio, kini tersenyum manis penuh manja di depan Rio. Mereka seolah melupakan semua yang terjadi sebelumnya.

“Nggak pa-pa, kok. Makasih, ya,” ujar Amel tulus. Rio hanya mengangguk lalu mengajaknya pulang.

Mereka berdua berjalan beriringan di koridor kelas. Tak ada yang angkat bicara. Sepertinya, mereka masih merenungkan apa yang baru saja terjadi. Amel memeluk Rio, dan Rio mengelus kepala Amel. Tiba-tiba langkah Amel terhenti. Rio jadi ikut berhenti.

“Kenapa, Mel?” Tanya Rio. Amel malah menatapnya sinis.

“Lo ngapain nolongin gue? Bukannya lo yang ngunciin gue dari luar???” Tanya Amel tiba-tiba. Rio mengernyitkan dahi.

“Heh, buat apa gue nolongin lo kalo gue yang ngunciin lo? Kamar mandi itu emang sering macet. Elonya aja yang gak tau. Pintu itu cuma bisa dibuka dari luar kalo udah macet. Elo denger, kan? Tau gini, mending gue tidur di rumah daripada nolongin lo yang gak tau terima kasih. Lo mau kedinginan kek, mau kelaperan kek, sendirian…” tangan Amel membungkam mulutnya.

“Jadi, bukan lo yang ngunciin gue?” Tanya Amel tanpa melepaskan tangannya dari mulut Rio. Rio langsung menyingkirkan tangan Amel.

“Gue tadi mau minta maaf sama lo gara-gara tikus tadi. Tapi lo gue telepon gak lo angkat, gue sms juga gak lo bales. Gue nanya Kiki, katanya dia tadi gak pulang bareng lo. Lo ke kamar mandi dulu kan tadi. Habis itu gue ke rumah lo tapi lo belom pulang. Gue khawatir lo kenapa-napa, jadinya gue nyusul lo kesini.” Jelas Rio panjang yang membuat Amel tercengang sekaligus bingung.

“Khawatir? Kenapa lo…emm…kamu khawatirin aku? Kamu masih peduli sama aku? Bukannya selama ini kamu…” kalimat Amel terhenti ketika bibir Rio tiba-tiba mengecup kening Amel sampai-sampai Amel memejamkan matanya. Yang ada di otaknya hanya kenangan Amel bersama Rio dulu. Saat Rio mengecup kening Amel saat pesta ulang tahunnya di depan teman-teman Amel. Kecupan ini, masih sama seperti yang dulu. Tak ada yang berubah dari Rio.

Rio langsung menarik tangan Amel untuk pulang. Sementara Amel masih terpaku tak percaya. Tiba-tiba muncul ide di benaknya.

“Heh, Monster Kram! Lo nggak bisa cium orang sembarangan! Gue bukan cewek lo lagi! Pokoknya, lo harus tanggung jawab,” kata Amel seraya menarik tangannya lalu bersedekap.

“Maaf, deh. Gue harus tanggung jawab apa?” Tanya Rio pasrah.

“Lo harus turutin tiga permintaan gue. Yang pertama…” terdengar sayup-sayup adzan maghrib berkumandang. Amel melirik jam tangannya.

“Yang pertama, lo harus harus jadi imam gue shalat sekarang,” pinta Amel. Rio terdiam sejenak lalu mengangguk.

“Oke,” jawabnya singkat. Mereka berdua menuju masjid sekolah yang tentu saja dalam keadaan sepi. Hanya ada penjaga sekolah yang masih mengambil air wudhu.

***

Seusai shalat berjamaah, keduanya berjalan menuju mobil Rio.

“Syarat yang pertama udah gue lakuin kan. Berarti tinggal dua syarat lagi. Nganterin lo pulang dan biarin lo istirahat di rumah dengan tenang, ya kan?” Tanya Rio asal menebak.

“Sotoy lo! Bukanlah… . Syarat yang kedua, traktir gue makan. Gue laper, dari tadi nggak ada makanan di kamar mandi.” Jawab Amel.

“Ye… . Kalopun ada makanan disitu lo juga gak bakalan nafsu makan di kamar mandi. Tapi gue nggak bawa duit cash neh,”

“Ya berarti bawa gue ke restoran yang bisa bayar pake kartu kredit,” ucap Amel nggak mau kalah. Rio geleng-geleng.

“Dasar mesin giling gak bisa ditawar!” kata Rio sambil mendorong kepala Amel. “Masuk gih,” katanya lagi seraya membukakan pintu mobil untuk Amel. Amel langsung masuk sambil tersenyum lebar karena sebentar lagi ia akan ditraktir di sebuah restoran mewah.

Di dalam mobil Rio, Rio menjelaskan kejadian sebelum ia ke sekolah. Ia juga bilang kalau yang memberitahunya tentang kamar mandi itu adalah Kiki.

Tak terasa, Rio telah menemukan sebuah restoran yang bisa bayar pake kartu. Ia langsung berbelok lalu memarkir mobilnya.

Setelah mendapat tempat duduk, Amel bersemangat memesan makanan. Rio kayak supir plus manager Amel nih kalo gini caranya…

“Lo laper banget ya kok makannya kayak gitu,” Tanya Rio yang malah gak memperhatikan makanannya. Dari tadi Rio hanya mengaduk-aduk makanannya sambil melihat Amel yang udah kayak orang belum makan tiga hari.

“Lo bayangin aja deh, gue dari tadi di kamar mandi. Gak ada temennya, gak bawa hp, gak ada makanan, tadi juga belom sholat…” Amel masih menelan makanan yang memenuhi mulutnya.

“Iya iya, gue ngerti kok. Ya udah abisin biar lo kenyang.” Ucap Rio lalu memasukkan suapan pertama ke mulutnya sendiri. Amel hanya mengacungkan jempolnya.

***

“Uhhh, kenyang… . Makasih ya,” ucap Amel lalu menyeruput minumannya. Rio mengangguk.

“Trus, syarat yang ketiga apa?” Tanya Rio lalu meminum jus yang ada di depannya.

“Syarat yang ketiga…terserah lo mau apa gak, tapi lo jangan kaget ya,” pesana Amel. Rio hanya mengangguk dengan mulut yang masih nempel ama sedotan.

“Syaratnya…kita BALIKAN.” Sontak saja Rio langsung batuk-batuk gak jelas.

“Tapi… tapi kalo lo nggak mau gak pa-pa kok,” ujar Amel mencoba menenangkan Rio yang masih terbatuk-batuk walaupun nggak separah tadi.

“Lo? Ngajak kita balikan? Maksud lo pacaran lagi? Balikan? B-A-L-I-K-A-N?” ulang Rio tak percaya. Amel mengangguk meyakinkan.

“Gue bayar dulu ya, trus lo gue ajak ke suatu tempat. Lo tunggu di luar aja,” suruh Rio. Amel mengangguk. Rio lalu ke kasir untuk membayar.

“Kita mau kemana?” Tanya Amel setelah mobil dijalankan.

“Udah, lo tenang aja. Lo nggak bakalan kecewa. Di sana, gue akan mutusin mau apa nggak ama syarat lo yang terakhir,” kalimat itu membuat Amel deg-degan. Ia hanya diam sambil mereka-reka kemana pergi.

Ternyat Rio membawa Amel ke Taman Kota. Tempat Rio menyatakan cinta untuk Amel dulu. Mereka berdua segera turun begitu Rio selesai memarkir mobilnya. Rio menggandeng tangan Amel dan mengajaknya ke salah satu kursi dari papan yang ada di sana. Kebelutan, kursi itu kosong.

“Lo lihat ini kan?” Rio menunjuk tulisan yang tertulis di pojok bangku. Amel agak membungkuk untuk membaca tulisan itu. RIO LOVE AMEL FOREVER, begitu terbaca. Tulisan itu berada di dalam gambar hati. Amel tersenyum haru lalu memandang Rio.

“Kamu yang nulis ini?” Rio mengangguk lalu menekuk lututnya dan belum melepas tangan Amel.

“Nenek Sihir, aku sayang sama kamu. Aku mau balikan sama kamu. Dan aku janji, kalo aku nggak akan biarain kamu pergi lagi dari hidup aku. Aku akan terus jagain kamu.” Ujarnya lalu mencium tangan Amel penuh arti.

“Ya, Monster Kram. Akuy juga sayang sama kamu. Aku nggak akan ngulangin kesalahan aku lagi. Aku akan berusaha bersikap lebih dewasa dan bisa ngertiin kamu.” Balas Amel. Rio lalu berdiri.

“Berarti kamu jadi sweetyku lagi?”

“Iya, sweetyku…” jawab Amel.

“Bentar ya Sweety, aku punya sesuatu buat kamu. Sesuatu yang selalu aku bawa kemana-mana. Tunggu di sini ya,” Rio lalu berlari ke mobinya. Ia mengambil sebuah kotak.

“Buka aja,” ujar Rio begitu kotak itu sampai di tangan Amel.

Mata Amel terbelalak begitu ia tau apa yang ada di dalam kotak itu. Sepasang sepatu kesayangannya yang pernah hilang di sekolah. Ia sampai nyeker seharian gara-gara itu. Ia juga mogok makan sehari karena gak ada sepatu kayak gitu di pasar. Ya iyalah, sepatu itu kado ulang tahun yang dibeli papanya waktu di Perancis. Ternyata, ini semua ulah Rio!

“Ri…” mulutnya terhenti ketika ia mendapati Rio sudah tak ada lagi di depannya. Tapi ia masih bisa melihat punggung Rio di kejauhan. Rio kabur!

“MONSTER KRAM NYEBELIN!!!”

-The End-

 

Category: CerPeN_kOe  2 Comments
Des
20

Senja hari mulai menapaki kasurnya

Ingin terlelap dalam tidurnya

Sang bulan telah lelah

menyinari malam dunia

Namun aku tak akan tertidur

Hanya lewati malam nan dingin bersama angin

Tak berkawan

Tak berlawan

Tak ada bintang

Hanya sendiri diterpa sang bayu

Kulewati batu-batu terjal

dan duri-duri runcing

Namun setiap detik waktuku

tak pernah kulupa dirimu

Kutandai setiap bukit dengan air mataku

Kutandai setiap gunung dengan darahku

Kusebrangi lautan dengan kakiku

Hanya dengan tubuh mungilku

Bagai bukit di atas bukit

yang menutup penglihatanku

akan pemandangan indah di balik pelangi

Hingga aku sampai pada pada kawah

Kau bawa aku berdiri di atasnya

Di atas kawah panas aku bediri

Apakah aku sudah mati

Tidak! jawabmu

Category: My_P03try  10 Comments
Des
20

Semilir angin nan lembut

Tetes air dedaunan

Di Bumi yang masih basah

Ketika langit baru saja menangis

Seolah temani hatiku

Yang tak berdaya

Melupakanmu

Bibir ini terasa beku

Seolah tubuh ini

Melayang begitu saja

Tanpa nyawa

Pisau cintamu telah menyayat habis

Isi hatiku

Yang kau lakukan kini tak seperti engkau yang dulu

Yang temani aku

Yang terus menampakkan senyum terbaikmu

Yang takkan aku temukan

pada hati yang lain

Kini…

Dimanakah senyum itu

Dimanakah engkau yang dulu

Kembalilah

Wahai bintang hatiku

Kau penjahat cintaku

Category: My_P03try  4 Comments
Des
20

Kata-kata manismu

Bagaikan telaga madu

Lembut belaian kasihmu

Seakan membisukan mataku

Kau biarkan aku terbang dalam rasa ini

Melayang-layang dalam surga langit

Indah… sungguh indah

Tak kau biarkan aku hanyut dalam sepi

Kau selalu menghiasi mimpiku

Kau jadikan aku wanita terindah dalam hidupmu

Tapi

Itu dulu

Dan kini… aku pun terjaga

Masihkah engkau menungguku

Masih adakah rasa itu

Masihkah kau sempatkan aku dalam doamu

Masih adakah namaku dalam hatimu, sayang

Kasihku…

Aku rindu padamu

Des
20

Ketika dua bola mata ini memandangmu

Hatiku bergetar

Ketika melihat senyummu

Hatiku tak dapat berhenti tersenyum

Pandangan matamu

Seolah menyihir hatiku

Menghembuskan hawa cinta

Hingga aku menghirupnya

Kau seolah berikan

Satu nafas untukku

Yang merayap merasuki

Ruang-ruang hati

Andai engkau tahu

Diri ini tak mampu hidup tanpamu

Kau yang selalu hiasi hariku

Kau yang selalu hiasi senyumku

Kaulah pangeran cintaku

Kaulah penerang hatiku

Kaulah pujaan jiwaku

Engkau segalanya bagiku

Ku ingn tahu

Bagaimana hatimu

Cintakah engkau padaku

Category: My_P03try  4 Comments
Des
20

Pandangan matamu

Menyiratkan sejuta makna

Entah itu cinta

Atau juga sayang

Aku tak mengerti

Dan takkan pernah mengerti

Setiap kata yang kau ucap

Selalu terekam dalam benakku

Juga hatiku

Tapi mengertikah engkau

Tiba-tiba kau begini

Apa salahku

Hingga kau menjadi milik orang lain

Mengapa kau membuatku redup

Setelah kau berikan cahaya dalam relung hatiku

Setelah kau genggam tanganku

Setelah kau curi hatiku

Mungkinkah hati ini salah mengartikan sikapmu

Yang kurasa itu cinta

Ataukah sayang

Mungkinkah hati ini salah

Bicaralah

Tentang isi hatimu yang sesungguhnya

Agar kau dapat kembali mencahayai

Relung hati ini